TIDAR NEWS. COM – Nama Dr. Elviriadi, M.Si. bukanlah sosok asing di Provinsi Riau. Ia dikenal sebagai pakar lingkungan hidup yang kritis, da’i yang menyejukkan, sekaligus intelektual yang konsisten membela masyarakat kecil. Di usianya yang ke-49 tahun, Elviriadi tetap berdiri di garis terdepan memperjuangkan keadilan ekologis dan sosial, tanpa silau oleh jabatan maupun materi.
Perjuangan di Negeri Jiran
Perjalanan hidup Elviriadi tidaklah mudah. Pada 2009 silam, saat menempuh studi doktoral di Fakulti Sains dan Teknologi, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Selangor, Malaysia, ia harus berjuang dalam keterbatasan ekonomi.
Dengan pakaian sederhana dan sepatu yang mulai koyak, ia tetap hadir paling pagi di perpustakaan kampus untuk menyelesaikan disertasinya. Bersama istri dan anak-anaknya, ia bertahan hidup di negeri orang dengan penuh kesederhanaan. Bahkan, ia kerap berpuasa Senin-Kamis, bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga cara menghemat pengeluaran.
“Yang penting niat dulu. Soal rezeki, Allah yang urus. Tugas kita hanya melangkah,” menjadi prinsip hidup yang terus dipegangnya.
Semangat pantang menyerah itu akhirnya berbuah manis. Ia berhasil meraih gelar doktor dan kembali ke tanah air membawa ilmu serta tekad pengabdian.
Ditempa di HMI dan Universitas Riau
Sebelum menyandang gelar doktor, Elviriadi merupakan aktivis kampus di Universitas Riau (UNRI). Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekanbaru, organisasi yang membentuk karakter kritis dan kepemimpinannya.
Di era 1990-an hingga awal 2000-an, HMI Pekanbaru dikenal sebagai ruang diskusi yang melahirkan banyak pemikir muda Riau. Elviriadi dikenal tajam dalam berargumentasi, namun tetap rendah hati. Ia juga produktif menulis di berbagai media massa lokal, mengangkat isu-isu lingkungan dan sosial secara kritis serta solutif.
Menginspirasi Generasi Muda
Tak sedikit anak muda yang mengaku termotivasi oleh Elviriadi untuk berani bermimpi lebih tinggi, termasuk melanjutkan studi ke luar negeri melalui jalur beasiswa. Baginya, kemiskinan bukanlah takdir, melainkan kondisi sementara yang bisa diubah melalui ilmu dan kemauan keras.
“Di luar negeri itu bukan hanya untuk orang kaya. Asal ada kemauan, pasti ada jalan,” ujarnya dalam berbagai kesempatan memberi motivasi kepada mahasiswa dan kader muda.
Keberanian hingga Panggung Internasional
Salah satu kisah yang kerap dikenang adalah ketika Elviriadi mendapat undangan sebagai pembicara dalam konferensi internasional di Selandia Baru. Meski tanpa kepastian biaya akomodasi, ia tetap berangkat dengan keyakinan dan usaha keras mencari dukungan dana.
Keberaniannya membuahkan hasil. Presentasinya mendapat apresiasi dan memperluas jejaring internasionalnya. Perjalanan itu menjadi simbol keteguhan dan keyakinannya bahwa niat baik akan menemukan jalannya.
Pakar Lingkungan dan Staf Ahli Menteri
Di tingkat nasional, Elviriadi pernah dipercaya menjadi Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat kementerian tersebut dipimpin oleh Siti Nurbaya Bakar. Di posisi itu, ia dikenal tetap kritis dan independen, memberikan masukan ilmiah yang tajam demi kepentingan lingkungan dan masyarakat.
Sebagai pakar lingkungan, ia kerap menjadi narasumber, saksi ahli di pengadilan, serta penulis buku dan artikel ilmiah. Sikapnya yang vokal dalam membela hak masyarakat adat dan petani kecil membuatnya disegani, bahkan oleh pihak yang berbeda pandangan.
“Singa Mimbar” dan Kehidupan Zuhud
Selain akademisi, Elviriadi juga dikenal sebagai da’i yang fasih mengaitkan nilai-nilai Alquran dengan isu sosial dan lingkungan. Di kalangan aktivis, ia dijuluki “Singa Mimbar” karena gaya ceramahnya yang tegas namun menyejukkan.
Meski pernah berada di lingkar kebijakan nasional, gaya hidupnya tetap sederhana. Ia tak tertarik mengejar kemewahan. Prinsipnya tegas: tidak ingin dibayar untuk diam ketika melihat ketidakadilan.
Warisan yang Tak Kasat Mata
Kini, di usia 49 tahun, Dr. Elviriadi terus konsisten memperjuangkan keadilan ekologis dan sosial. Warisannya bukanlah harta, melainkan gagasan, semangat, dan inspirasi bagi ribuan mahasiswa, kader organisasi, serta masyarakat kecil yang pernah disentuh perjuangannya.
Di tengah zaman yang kian pragmatis, sosok Elviriadi hadir sebagai pengingat bahwa ilmu sejati adalah yang diamalkan untuk membela yang lemah. Ia membuktikan bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari kekayaan, melainkan dari seberapa banyak kehidupan yang berhasil ia ubah.
Dari Bumi Lancang Kuning, Dr. Elviriadi terus menyala—menjadi lentera bagi mereka yang tak bersuara, dan teladan bahwa konsistensi pada kebenaran adalah bentuk perlawanan paling elegan terhadap zaman.
Kisah perjalanan dan perjuangan Dr, Elviriadi, dituangkan ke Redaksi TIDAR NEWS. COM oleh Satria Antoni, PhD (Praktisi Migas)
